Wednesday, April 13, 2016

Wawancara Tokoh Agama


  Pentingnya Menjaga Kerukunan antar Umat Beragama untuk  Menjaga Keutuhan NKRI dan Melangsungkan Pembangunan Nasional


 



Kelas   : LE11
Dosen  : D3093 - Frederikus Fios, S.Fil., M.Th.
Lokasi :
- Masjid Jami Darussalam Jl. KH.Syahdan  No.11 Palmerah, Jakarta Barat
- Wihara Ekayana Jl. Mangga II No. 8 Tanjung Duren, Jakarta Barat
-  Gereja HKBP  Jl. Mangga I No. 33 Tanjung Duren, Jakarta Barat

Ketua       : 
1801394420 Yustinus Christian

Anggota  : 
1801445825 - Claresta Vashti Clorinda
1601278671 - Fauzan Dary Dwiputra
1801438813 - Pandi Yudha Pratama

Pada tanggal 4 April 2016 kami mengadakan interview dengan salah satu tokoh agama di Indonesia yaitu Ust.H.Abdul. Interview berlangsung di mesjid daerah Syahdan. Karena beliau mempunyai waktu yang minim, berikut hasil interview kami dengan beliau.


Menurut Anda, bagaimana kerukunan antar agama di Indonesia?
Situasinya kalau dikatakan aman sebenarnya tidak juga, kalau dibilang tidak aman juga tidak. Menurut saya sih stabil, tapi karena ada kelompok terselubung yang kita tidak tahu justru itu yang harus diwaspadai. Pasti ada beberapa oknum terutama yang sifatnya radikal. Itu sangat sulit diterima disini. Liberalpun juga lebih ekstrim kadang.

Bagaimana cara kita sebagai umat beragama untuk tetap menjaga kerukunan antar agama, serta tidak terlibat di aktivitas yang bersifat 'rusuh'?
Kita harus berani menghadapi orang yang ingin menjatuhkan kita dan meluruskan bahwa kacamata orang tersebut salah. Berani ini bisa diajarkan ke masyarakat dengan caranya masing-masing. Kalau di Islam, kita bisa bahas di khotbah, majelis ta'lim, atau pertemuan antar pemuka agama islam. Lalu semua orang juga harus punya pegangan seperti kitabnya masing-masing.

Selain itu dari sisi pemerintahan, pemerintah juga perlu berpartisipasi karena kadang keputusan pemerintah juga kurang mengena di agama tertentu. Keputusan juga harus bisa menyesuaikan kondisi juga sehingga terciptalah kerukunan antar agama dan tidak memprovokasi agama tertentu untuk berbuat hal anarkis. Kalau kita rukun satu sama lain dan bisa toleransi satu sama lain, pembangunan negara tentunya bisa berkembang. Karena rasa 'selek' satu sama lain hilang, dan kini kita memikirkan gimana caranya kerjasama kita untuk mencapai suatu tujuan. Tidak ada lagi perang antar agama.

Berikut foto yang kami ambil bersama Ust.H. Abdul





Hari kedua, yaitu pada hari Rabu, 13 April 2016 seluruh anggota kelompok kami melakukan interview dengan dua tokoh agama sekaligus. Yaitu perwakilan dari agama Buddha dan Kristen Protestan. Interview pertama, yaitu dengan Bhiksu Nyanagupta kami laksanakan di Vihara Ekayana yang berada di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Berikut pertanyaan yang kami ajukan kepada beliau.

Pentingkah kerukunan antar agama itu?
Indonesia itu tergolong sebagai bangsa yang multikultural, dimana didalamnya terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Masyarakat yang monokultural atau terdiri dari 1 etnis saja perlu kerukunan, apalagi negara seperti Indonesia ini. Tentu itu penting sekali. Karena dengan kerukunan antar agama, roda pembangunan negara juga dapat berjalan dengan baik.

Apa peranan kita sebagai orang yang beragama? Bagaimana kita bisa hidup rukun?
Dalam konteks praktek beragamanya, itu adalah urusan pribadi tiap umat. Semua agama tentunya akan bilang bahwa agamanya adalah yang terbaik. Tetapi bukan berarti agama lain juga salah pengajarannya. Jika kita mau hidup rukun, tentu kita tidak boleh punya pandangan seperti itu. Karena semua manusia hakikatnya sama. Sama-sama ciptaan Tuhan. Jadi peranan kita sebenarnya simpel, jangan mendiskriminasikan perbedaan yang ada.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai pernyataan berikut, 'Agama X salah, jangan percaya dengan ajaran tersebut.'
Jangan menilai orang dari kacamata kita. Norma agama itu punya cara pandang yang berbeda. Tiap agama itu tujuannya untuk mengubah manusia kearah yang lebih baik. Tetapi yang salah adalah penggunaannya. Sebagai contoh, pisau jika digunakan dengan baik yaitu untuk memasak, untuk memahat atau mengukir sebuah seni. Tetapi akan buruk jika digunakan untuk membunuh. Agama juga sama. Ketika memahami agama, terkadang perbedaan yang terjadi itu hanyalah bagian kulit luarnya saja. Tetapi kalau lihat kedalam lagi, kita akan menemukan hakikat kebenaran. Hal ini berlaku untuk semua agama. Bahkan agama primitifpun juga begitu. Hakikat kebenaran tidak akan berubah, tetapi bentuk luarnya yang berbeda. Saat ini banyak manusia yang terjebak dengan bagian luarnya saja.

Terkadang kita suka melihat ada aturan pemerintah yang hanya berpihak kepada satu agama saja. Menurut Anda, bagaimana langkah yang tepat agar semua agama dapat perlakuan adil dan tidak ada diskriminasi bagi pemerintah untuk melihat semua agama tersebut?
Pemerintah bisa saja memfasilitasi, memberi fungsi supaya agama-agama bisa hidup harmonis. Kasih penerangan yang tepat pada masyarakat kalau kerukunan antar agama itu penting dan juga masyarakat harus dari sejak dini membangun pilar-pilar keharmonisan yang sesungguhnya. Bukan harmonis yang semu. Contohnya, di berbagai departemen pasti ada juru penerang untuk masing-masing agama. Gimana caranya juru penerang itu memainkan peran untuk memberi nilai yang menyejukkan. Departemen pendidikan juga bisa berkolaborasi untuk menanamkan pilar keharmonisan dari pendidikan sejak dini. Karena jika dilihat pada kondisi sekarang, agak kurang karena banyak terjadi penyeragaman untuk mencapai keharmonisan.

Apa pesan dari Anda supaya kita bisa menjadi penganut agama yang lebih baik?
Belajar dengan mendalam mengenai agama kita, karena makin dalam pastinya kita makin dekat dengan hakikat kebenaran. Selain itu kita juga harus bisa menghargai sisi kemanusiaan diatas segalanya. Tanamkan bahwa semua manusia itu saudara. Perbedaan itu pasti ada, tapi itu bukan halangan jika kita belajar agama lebih dalam. Percayalah bahwa orang baik ada dimana-mana, sekalipun orang itu tidak beragama.

Berikut adalah foto yang kami ambil dengan Bhiksu Nyanagupta.





Interview kedua kami, yaitu dengan Pendeta P. Simajuntak, STh. kami laksanakan di Gereja HKBP yang berada di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Berikut pertanyaan yang kami ajukan kepada beliau.

Pentingkah kerukunan antar agama itu?
Justru itu kunci supaya negara kita menjadi negara yang aman. Karena jika ditanya tentang kerukunan antar agama, Indonesia ini masih banyak kasus yang beredar di berbagai media terkait dengan minimnya kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Negara kita adalah negara multikultural, paham kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Jadi sebagai warga negara beragama yang ingin membangun bangsa, kerukunan antar agama itu sangat penting.

Apa peranan kita sebagai orang yang beragama? Bagaimana kita bisa hidup rukun?
Kita perlu sering beribadah dan menjalankan apa yang Tuhan senangi dan menjauhi apa yang tidak disenangi Tuhan. Semua agama pasti merangkul pengikutnya untuk hidup berdampingan, bergotong royong, bekerjasama. Tinggal kita sebagai manusia yang rasional, mau atau tidak menjalankan hal itu. Tetapi yang bikin susah hidup rukun itu, terkadang ada 'orang luar' yang tidak senang melihat masyarakatnya hidup damai sehingga menimbulkan kerusuhan. Hal seperti ini butuh peranan dari pemerintah untuk ditindaklanjuti dengan serius. Karena kalau begini terus, negara kita tidak akan maju pola pikirnya.

Bagaimana cara kita agar menjaga kerukunan antar agama?
Kita harus menanamkan aspek toleransi dan juga menjaga hubungan harmonis kepada semua manusia tanpa peduli agama masing-masing individu. Kita sopan, santun, berbuat baik, pasti orang juga akan berbuat demikian terhadap kita. Banyak-banyak berdiskusi dan bersosialisasi dengan orang sekitar kita untuk mendapatkan pandangan baru. Karena banyak orang-orang yang berpikiran sempit dan langsung menilai dari luarnya saja. Dengan berdiskusi, kita jadi tahu mengenai aspek kehidupan lainnya dan pikiran kita yang tadinya sempit menjadi lebih lebar untuk menerima tanggapan dari orang lain. Terakhir yaitu saling menghormati. Ini penting sekali untuk ditekankan, supaya kedepannya tidak terjadi kerusuhan seperti yang sering terjadi di negeri kita.

Apa pesan dari Anda supaya kita bisa menjadi penganut agama yang lebih baik?
Jagalah negara kita, jagalah makna dari pancasila dan bhinneka tunggal ika. Sering berdiskusi dengan orang lain mengenai kasih. Karena kasih menutupi segala kelemahan, menjadikan kita sebagai masyarakat yang berjiwa positif, open minded, dan terima kritik serta saran. Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan bangunlah persatuan di Indonesia. Zaman semakin maju, kita harus siap dan berani menerima perbedaan yang ada. Karena perbedaan bukan untuk diperangi, tetapi untuk dikasihi sehingga hubungan bermasyarakat kita akan harmonis dan jauh dari permusuhan.

Berikut adalah foto yang kami ambil dengan Pendeta P.Simajuntak, STh.




Sekian laporan dari kami, semoga dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi kita semua dalam membangun kerukunan antar beragama dan mari kita ambil sisi positif dari apa yang telah diutarakan oleh Ust.H.Abdul, Bhiksu Nyanagupta, dan Pendeta P.Simajuntak, STh. Terimakasih telah membaca :)

Pembahasan Teori


Peran Agama Menciptakan Perdamaian Dunia


Kelas   : LE11
Dosen  : D3093 - Frederikus Fios, S.Fil., M.Th.

Ketua       : 
1801394420 Yustinus Christian

Anggota  : 
1801445825 - Claresta Vashti Clorinda
1601278671 - Fauzan Dary Dwiputra
1801438813 - Pandi Yudha Pratama


Untuk mencapai perdamaian dunia, agama tentu harus terus kembali pada Tuhan, dan mendengarkan pesan-pesannya. Mendengar pesan-pesan Tuhan dapat dilakukan dengan mempelajari kitab suci, dengarkan hati nurani dan dengarkan ajaran yang disampaikan oleh para pemimpin agama. Selain itu saling menghargai dan membangun dialog antar umat beragama.


Kerjasama antar agama merupakan salah satu cara untuk menciptakan perdamaian dunia. Selain itu Kerjasama juga sebagai suatu keharusan bagi umat beragama untuk menghasilkan pembaruan yang diperluakan. Semua institusi agama dan juga etnis harus mengembangkan kesadaran akan pentingnya kerjasama, karena hubungan yang paling dekat dan paling erat adalah kerja sama. Jika kesadaran dan kerja sama antar kelompok yang berbeda sedang belangsung maka yang disebut dengan multikulturalisme kolaboratif sedang dibangun. Multikulturalisme Kolaboratif merupakan salah satu pendekatan mengatasi masalah-masalah akibat perbedaan etnis, agama, dan budayas seperti konflik dan disintergrasi nasional. 

Langkah - langkah yang perlu diambil :
  • Memperbaiki paradigma hidup keagamaan
    Sebagai bangsa beragama, kita berharap bahwa pesan-pesan keselamatan dari Tuhan bukan hanya tinggal sebagai yang ideal saja, yang tidak tersentuh oleh manusia. Agama-agama, dengan kerja sama yang semakin baik, harus mencari jalan agar pesan-pesa keselamatan itu dapat menjadi milik manusia dan menyemangati hidupnya.
  • Membela kaum lemah
    Kerja sama yang dibangun hendaknya berorientasi untuk memihak yang lemah dengan memberdayakan mereka. Kebaikan Tuhan bisa sampai kepada seseorang melalui sesamanya. Agama-agama terutama harus dapat menjadi saluran berkat dari Tuhan bagi manusia. Untuk itu, Kita sebagai manusia harus saling bekerja sama untuk memberdayakan mereka yang lemah. 
  • Menghadirkan suasana surga di bumi
    Surga sebagai lambang kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan hidup, bukanlah hanya sebagai kenyataan di akhirat nanti, melainkan seharusnya kita sudah mulai menikmatinya ketika kehidupan di dunia ini. Hal itu terjadi dalam bentuk ketentraman, keamanan, kerukunan, kedamaian, kesejahteraan, dan segala wujud kebaikan bersama 
  • Menjadi pelopor kebaikan akhlak
    Sebuah bangsa akan hancur ketika moralitas hancur, demikian kata penyair Syauqi Beik. Dalam aktivitas sehari-hari, setiap pribadi beriman hendaknya bisa menjadi teladan bagi sesamanya dan menjadi pelopor kebaikan.
  • Bekerja sama memberantas kejahatan dan menebar kebaikan
    Kerja sama antar agama dapat diarahkan juga dengan bijak untuk memberantas kejahatan di berbagai lingkup kehidupan. 

Agama-agama harus mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk berbuat baik. Himbauan atau seruan yang terus-menerus dari para tokoh agama dapat menyebar luaskan kebaikan melalui kerja sama di berbagai proyek tokoh agama, yang disertai dengan keteladanan yang terpuji, dapat mendorong umat untuk menjauhi kejahatan, dan berusaha hidup secara baik.