Pentingnya Menjaga Kerukunan antar Umat Beragama untuk Menjaga Keutuhan NKRI dan Melangsungkan Pembangunan Nasional
Dosen : D3093 - Frederikus Fios, S.Fil., M.Th.
Lokasi :
- Masjid Jami Darussalam Jl. KH.Syahdan No.11 Palmerah, Jakarta Barat
- Wihara Ekayana Jl. Mangga II No. 8 Tanjung Duren, Jakarta Barat
- Gereja HKBP Jl. Mangga I No. 33 Tanjung Duren, Jakarta Barat
Ketua :
1801394420 - Yustinus Christian
Anggota :
1801445825 - Claresta Vashti Clorinda
1601278671 - Fauzan Dary Dwiputra
1801438813 - Pandi Yudha Pratama
Pada tanggal 4 April 2016 kami mengadakan interview dengan salah satu
tokoh agama di Indonesia yaitu Ust.H.Abdul. Interview berlangsung di
mesjid daerah Syahdan. Karena beliau mempunyai waktu yang minim, berikut
hasil interview kami dengan beliau.
Menurut Anda, bagaimana kerukunan antar agama di Indonesia?
Situasinya
kalau dikatakan aman sebenarnya tidak juga, kalau dibilang tidak aman
juga tidak. Menurut saya sih stabil, tapi karena ada kelompok
terselubung yang kita tidak tahu justru itu yang harus diwaspadai. Pasti
ada beberapa oknum terutama yang sifatnya radikal. Itu sangat sulit
diterima disini. Liberalpun juga lebih ekstrim kadang.
Kita
harus berani menghadapi orang yang ingin menjatuhkan kita dan
meluruskan bahwa kacamata orang tersebut salah. Berani ini bisa
diajarkan ke masyarakat dengan caranya masing-masing. Kalau di Islam,
kita bisa bahas di khotbah, majelis ta'lim, atau pertemuan antar pemuka
agama islam. Lalu semua orang juga harus punya pegangan seperti kitabnya
masing-masing.
Selain itu dari sisi pemerintahan, pemerintah juga perlu
berpartisipasi karena kadang keputusan pemerintah juga kurang mengena
di agama tertentu. Keputusan juga harus bisa menyesuaikan kondisi juga sehingga
terciptalah kerukunan antar agama dan tidak memprovokasi agama tertentu untuk berbuat hal anarkis. Kalau kita rukun satu sama lain dan bisa toleransi satu sama lain, pembangunan negara tentunya bisa berkembang. Karena rasa 'selek' satu sama lain hilang, dan kini kita memikirkan gimana caranya kerjasama kita untuk mencapai suatu tujuan. Tidak ada lagi perang antar agama.
Berikut foto yang kami ambil bersama Ust.H. Abdul
Hari kedua, yaitu pada hari Rabu, 13 April 2016 seluruh anggota kelompok kami melakukan
interview dengan dua tokoh agama sekaligus. Yaitu perwakilan dari agama
Buddha dan Kristen Protestan. Interview pertama, yaitu dengan Bhiksu Nyanagupta kami laksanakan di
Vihara Ekayana yang berada di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Berikut pertanyaan yang kami ajukan kepada beliau.
Pentingkah kerukunan antar agama itu?
Indonesia
itu tergolong sebagai bangsa yang multikultural, dimana didalamnya
terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Masyarakat yang monokultural
atau terdiri dari 1 etnis saja perlu kerukunan, apalagi negara seperti
Indonesia ini. Tentu itu penting sekali. Karena dengan kerukunan antar
agama, roda pembangunan negara juga dapat berjalan dengan baik.
Apa peranan kita sebagai orang yang beragama? Bagaimana kita bisa hidup rukun?
Dalam
konteks praktek beragamanya, itu adalah urusan pribadi tiap umat. Semua
agama tentunya akan bilang bahwa agamanya adalah yang terbaik. Tetapi
bukan berarti agama lain juga salah pengajarannya. Jika kita mau hidup
rukun, tentu kita tidak boleh punya pandangan seperti itu. Karena semua
manusia hakikatnya sama. Sama-sama ciptaan Tuhan. Jadi peranan kita
sebenarnya simpel, jangan mendiskriminasikan perbedaan yang ada.
Jangan
menilai orang dari kacamata kita. Norma agama itu punya cara pandang
yang berbeda. Tiap agama itu tujuannya untuk mengubah manusia kearah
yang lebih baik. Tetapi yang salah adalah penggunaannya. Sebagai contoh,
pisau jika digunakan dengan baik yaitu untuk memasak, untuk memahat
atau mengukir sebuah seni. Tetapi akan buruk jika digunakan untuk
membunuh. Agama juga sama. Ketika memahami agama, terkadang perbedaan
yang terjadi itu hanyalah bagian kulit luarnya saja. Tetapi kalau lihat
kedalam lagi, kita akan menemukan hakikat kebenaran. Hal ini berlaku
untuk semua agama. Bahkan agama primitifpun juga begitu. Hakikat
kebenaran tidak akan berubah, tetapi bentuk luarnya yang berbeda. Saat
ini banyak manusia yang terjebak dengan bagian luarnya saja.
Pemerintah bisa saja
memfasilitasi, memberi fungsi supaya agama-agama bisa hidup harmonis.
Kasih penerangan yang tepat pada masyarakat kalau kerukunan antar agama
itu penting dan juga masyarakat harus dari sejak dini membangun
pilar-pilar keharmonisan yang sesungguhnya. Bukan harmonis yang semu.
Contohnya, di berbagai departemen pasti ada juru penerang untuk
masing-masing agama. Gimana caranya juru penerang itu memainkan peran
untuk memberi nilai yang menyejukkan. Departemen pendidikan juga bisa
berkolaborasi untuk menanamkan pilar keharmonisan dari pendidikan sejak
dini. Karena jika dilihat pada kondisi sekarang, agak kurang karena
banyak terjadi penyeragaman untuk mencapai keharmonisan.
Belajar
dengan mendalam mengenai agama kita, karena makin dalam pastinya kita
makin dekat dengan hakikat kebenaran. Selain itu kita juga harus bisa
menghargai sisi kemanusiaan diatas segalanya. Tanamkan bahwa semua
manusia itu saudara. Perbedaan itu pasti ada, tapi itu bukan halangan
jika kita belajar agama lebih dalam. Percayalah bahwa orang baik ada
dimana-mana, sekalipun orang itu tidak beragama.
Interview kedua kami, yaitu dengan
Pendeta P. Simajuntak, STh. kami laksanakan di Gereja HKBP yang berada
di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Berikut pertanyaan yang kami
ajukan kepada beliau.
Pentingkah kerukunan antar agama itu?
Justru
itu kunci supaya negara kita menjadi negara yang aman. Karena jika
ditanya tentang kerukunan antar agama, Indonesia ini masih banyak kasus
yang beredar di berbagai media terkait dengan minimnya kerukunan dan
toleransi antar umat beragama. Negara kita adalah negara multikultural,
paham kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Jadi sebagai warga negara
beragama yang ingin membangun bangsa, kerukunan antar agama itu sangat
penting.
Apa peranan kita sebagai orang yang beragama? Bagaimana kita bisa hidup rukun?
Kita
perlu sering beribadah dan menjalankan apa yang Tuhan senangi dan
menjauhi apa yang tidak disenangi Tuhan. Semua agama pasti merangkul
pengikutnya untuk hidup berdampingan, bergotong royong, bekerjasama.
Tinggal kita sebagai manusia yang rasional, mau atau tidak menjalankan
hal itu. Tetapi yang bikin susah hidup rukun itu, terkadang ada 'orang
luar' yang tidak senang melihat masyarakatnya hidup damai sehingga
menimbulkan kerusuhan. Hal seperti ini butuh peranan dari pemerintah
untuk ditindaklanjuti dengan serius. Karena kalau begini terus, negara
kita tidak akan maju pola pikirnya.
Kita
harus menanamkan aspek toleransi dan juga menjaga hubungan harmonis
kepada semua manusia tanpa peduli agama masing-masing individu. Kita
sopan, santun, berbuat baik, pasti orang juga akan berbuat demikian
terhadap kita. Banyak-banyak berdiskusi dan bersosialisasi dengan orang
sekitar kita untuk mendapatkan pandangan baru. Karena banyak orang-orang
yang berpikiran sempit dan langsung menilai dari luarnya saja. Dengan
berdiskusi, kita jadi tahu mengenai aspek kehidupan lainnya dan pikiran
kita yang tadinya sempit menjadi lebih lebar untuk menerima tanggapan
dari orang lain. Terakhir yaitu saling menghormati. Ini penting sekali
untuk ditekankan, supaya kedepannya tidak terjadi kerusuhan seperti yang
sering terjadi di negeri kita.
Jagalah
negara kita, jagalah makna dari pancasila dan bhinneka tunggal ika.
Sering berdiskusi dengan orang lain mengenai kasih. Karena kasih
menutupi segala kelemahan, menjadikan kita sebagai masyarakat yang
berjiwa positif, open minded, dan terima kritik serta saran. Jadilah
orang yang berguna bagi bangsa dan bangunlah persatuan di Indonesia.
Zaman semakin maju, kita harus siap dan berani menerima perbedaan yang
ada. Karena perbedaan bukan untuk diperangi, tetapi untuk dikasihi
sehingga hubungan bermasyarakat kita akan harmonis dan jauh dari
permusuhan.
Sekian
laporan dari kami, semoga dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi
kita semua dalam membangun kerukunan antar beragama dan mari kita ambil
sisi positif dari apa yang telah diutarakan oleh Ust.H.Abdul, Bhiksu Nyanagupta, dan Pendeta P.Simajuntak,
STh. Terimakasih telah membaca :)


